Not Yet Morendo

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, kalau tidak salah lihat.. Sesekali aku mengamati kendaraan melintas di jalan memamerkan kecepatannnya, sambil mempraktekkan “efek doppler” dari deru mesinnya maupun suara knalpot masing-masing. Memandang jauh aku ke lampu kota yang bersinar terang dan dikelilingi serangga malam. Walaupun tidak tumbuh sebagai makhluk nocturnal layaknya teman sebayaku lainnya, tapi aku yang suka dengan suasana sepi jalanan di malam hari. Menghabiskan sisa hariku sambil menunggu datangnya waktuku.

Mataku sayu sembab dan pikiran sudah tidak karuan, mungkin ini sudah waktunya pulang. Semakin lama berdiam diri di jalanan sepertinya hanya akan memperburuk kondisi badan saja. Apalagi kali ini kendaraanku terasa sangat berat. Sulit sekali untuk dikendalikan, tidak seperti biasanya. Entah kendaraanku yang memang berat atau mungkin fisikku yang  melemah, akibat dari jarang beraktifitas fisik sejak menyandang titel “maha-“. Angin malam sesekali mulai berhembus, pandangan mataku terasa semakin buram saat hawa dinginnya terasa mulai menyesakkan dada. Mengendarai motor dalam keadaan lelah dan mengantuk terasa seperti ekstasi. Hempasan angin dan kilauan lampu jalan menambah nikmat perjalanan malamku ini. Tanpa sadar mataku pun terpejam dalam kondisi sedang mengendarai sepeda motor. Sesaat aku membuka mata, terasa seperti ada sesosok benda hitam besar yang sedang melintang di depanku. Sesaat itu pula motion-ku seakan bergerak dengan sangat lambat, yet.. I can’t control it.. and then it goes blank again..

Sesaat lagi kubuka mataku, yang pertama kulihat hanyalah hamparan luas langit hitam. Dalam keheningan malam jalanan kota, monologku ini berlanjut. Pikiranku terasa semakin tidak menentu saja. Ditambah kondisi badan yang semakin rapuh seperti membuatku malas untuk beranjak dari tempatku berbaring.

“ What the f*** have I done all this time ?! ”, batinku tiba-tiba bertanya.

Aneh.. Kenapa tiba-tiba aku memikirkan hal tidak jelas seperti ini..

Beberapa saat tergeletak di jalan raya ternyata masih belum cukup menarik perhatian warga sekitar. Aku pun mengakhiri aksi gila tidur di jalan ini. Kulihat tak jauh dari “tempatku tidur” tadi, motorku yang masih tergeletak dan belum bangun. Ternyata sosok hitam yang tadi hendak menabrakku adalah sebuah mobil yang sedang terparkir di pinggir itu. Hehe.. memikirkan hal ini hanya bisa membuatku tersenyum kecut sambil terus berjalan. Sepertinya tadi aku terlalu menepi saat mengendarai motorku hingga hampir menabrak mobil sesekali meringis menahan rasa sakit akibat akrobat singkat dan bodoh barusan.

Waktu menunjukkan lewat tengah malam. Namun aku masih separuh perjalanan. Terpaku aku masih terduduk di trotoar.  Mengamati aktifitas “masyarakat malam” yang masih sangat aktif disaat kebanyakan orang melakukan hal sebaliknya membuatku malas untuk pulang. Entah apa yang mereka lakukan, entah apa yang mereka perbincangkan. Sesekali terdengar gelak tawa mereka dari kejauhan. Aku melihat mereka seperti kumpulan orang-orang gila. Melakukan kegiatan sia-sia dan tidak jelas tujuannya hanya untuk kesenangan yang menurutku bisa diperoleh lewat cara yang jauh lebih baik adanya.

Akan tetapi.. kalu mereka gila, lalu aku ini apa? Yang dari tadi hanya duduk sendiri mengamati dan sesekali mengomentari perilaku orang-orang gila itu. Tampaknya, akulah yang sebenarnya justru tidak lebih baik dari mereka.. (Not) To be Continued

Advertisements

7 thoughts on “Not Yet Morendo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s