Sajak Pungut

Mungutin sampah dari update-an status..

SATU

Sepucuk kata di penghujung eja,
merentas luka, perih dan menganga

berziarah aku di pekuburan waktu,
mengukir imajiku di atas nisan bisu

gerimis kata dalam bait duka..

sendiri berselimut sepi, asa rindu mulai terperi

hanya pada dinding ini aku bercengkrama
dibawah gerimis kata dalam bait duka..

——————————

DUA

kusimpan sajak duka dalam bilik hatiku,
sepanjang musim hingga ia berlalu

dan kudengar kata-kata di tiap sajak itu,
semakin keras mereka menjerit pilu

tersayat perih dan tergugu

biar saja kusimpan semua itu,
di kedalaman rasaku dan kubiarkan berlalu

membisu.. membatu..

——————————

TIGA

sekarang atau nanti
semangat itu sudah mati

dahulu dan kini
motivasi itu sudah pergi

aku ini apa
aku ini siapa

hah, kenapa dinding ini diam saja..

——————————

EMPAT

padanya separuh purnama,
aku kembali menyusun kata-kata

dan kusisipkan disela-sela awan,
agar sajak itu tetap tersimpan

kelak jika hari mengabarkan duka,
atau datang menumpahkan rasa

sampaikan saja pada rembulan,
akan apa-apa yang kulewatkan..
——————————

Advertisements

One thought on “Sajak Pungut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s