Kritik Terhadap Dongeng Bergambar “Raggedy Tale”

Tulisan ini dibuat sebagai masukan terhadap seorang kawan(?) di dunia maya yang penulis sendiri belum tahu wujud aslinya seperti apa. Hanya saja, karena penulis cukup menikmati dongeng bergambar miliknya, maka dibuatlah masukan tersebut dalam bentuk ulasan singkat.

Kemudian, ulasan ini akan disampaikan dalam bentuk kritik, dalam artian yang positif, yaitu untuk memberikan tanggapan beserta uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap karya tersebut. Alasan tidak diulas dalam bentuk komentar adalah agar tidak bertele-tele penjelasannya dan terlalu global tanpa ada esensi atau poin penting yang ingin disampaikan. Semoga bisa diterima.

1. Judul

Judul “Raggedy Tale” bagi masyarakat lokal bisa jadi cukup unik, karena menggunakan istilah yang jarang dipakai sehari-hari, namun untuk pemakaian secara global, istilah raggedy ini bisa jadi cukup banyak pesaingnya. Hal ini bisa dibuktikan dengan melakukan pencarian kata raggedy di mesin pencari. Sedangkan penambahan kata tale pun sepertinya belum cukup untuk memberikan informasi singkat yang menarik ketika orang membaca judulnya sekilas.

2. Dongeng / Cerita

Dongeng yang disampaikan disini rasanya sedikit melompati bagian perkenalan. Tidak ada banyak penjelasan mengenai setting lokasi, karakter, waktu kejadian dan yang lain. Tiba-tiba saja karakter-karakter bermunculan dan terjadi serangkaian peristiwa yang tentu saja menimbulkan pertanyaan “kenapa bisa begitu?”, “itu kok begini?”, dll. Bagus atau tidak ini relatif. Intinya, dongeng ini seakan langsung masuk ke dalam konflik, klimaks, dan selesai.

Saran, mungkin bisa ditambahkan prolog dulu sebelum masuk ke bagian dongeng atau memberikan komentar pada akhir dongeng, baik itu terkait karakternya, ceritanya atau sedikit curhatan terkait proses pembuatan maupun kehidupan sehari-hari sang pembuat karya. Ini terkadang bisa menggaet interaksi dengan pembaca, siapa tahu nanti ada pembaca yang iba dan kemudian mau bersedekah.. kan lumayan.. #duh

3. Gambar

Rasanya, hal paling menonjol dalam karya ini adalah gambarnya. Seperti dikerjakan dengan sangat niat. Walaupun kesan gambarnya mungkin agak suram akibat sketsa yang dibiarkan agak kasar, banyak arsiran gelap dan desain karakter yang kalau diistilahkan penduduk lokal “wagu” karena sepertinya memang mengadopsi tema fantasi (mbuh fantasi opo..).

Tapi benar, untuk gambarnya penulis berikan apresiasi lebih. Terutama pada beberapa kesempatan dimana gambar latar dibuat cukup banyak dan mendetail sehingga cukup terasa “feel”nya bagi pembaca, dengan catatan, terkadang gambar latar dan gambar karakter ini masih sering tidak jelas, mungkin karena hanya disajikan dalam gambar hitam putih dan begitu banyak arsiran, sehingga ketika gambar karakter bertemu dengan gambar latar maka pembaca terkadang masih bisa kebingungan dan sedikit mengira-ngira, gambar apakah itu ?

Cara gambar seperti ini mengingatkan penulis akan komik buatan luar negeri abad ke-19, dimana kebanyakan komik juga memiliki banyak arsiran gelap dan dominan warna hitam putih. Mungkin ini bisa jadi referensi.

4. Lain-lain

– Teks, tulisan pada teks terkadang kurang jelas, baik itu karena ukurannya yang kecil atau karena kurang tebal. mungkin bisa diatasi dengan menggunakan pena yang lebih gelap atau spidol. Untuk gelembung teks juga sepertinya bisa divariasikan, tidak harus menggunakan kotak, bisa menggunakan bulatan, garis atau yang lain.

– Artwork, penulis menganggap artwork ini bisa dijadikan sebagai sarana promosi yang bagus. Bisa digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan karakter dengan pembaca, juga bisa dipakai sebagai “freebies”. Seperti yang penulis anggap di gambar pertama chapter pertama dan di gambar terakhir chapter terakhir. Ya tapi itu kalau memang diniatkan untuk promosi.

– Apakah ini komik?, penulis tidak tahu apakah dongeng bercerita ini masuk kategori komik  atau tidak. Yang pasti dia memiliki banyak potensi untuk dijadikan berbagai jenis karya secara spesifik, contohnya ya sebagai sebuah komik , atau sebuah visual novel, atau karakternya sendiri bisa dikembangkan sebagai sebuah intelectual property sehingga di kemudian hari bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, seperti misalnya Mick*y Mou*e, Dona*d Du*k dan Pikac*u.

Oke, itu saja dari saya. Gutlak buat kamu, kawan.

Ditunggu karyanya yang lain..

Bonus, about this post:

Penulis artikel ini bukanlah seorang komikus, karena untuk keahlian menggambar saja penulis tidak punya. Akan tetapi penulis termasuk seorang penggemar dunia kreatif digital dan sering pada beberapa kesempatan mengikuti perkembangannya, termasuk untuk update berita mengenai startup (usaha) yang berbasis komik maupun berinteraksi dengan para pelaku dunia gambar, baik itu untuk komik, animasi dan game.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s