Cerita Migrasi dari Telkom CDMA Flexi ke Telkomsel “As CDMA”

UPDATE:

Per 30 Juni 2015, proses layanan upgrade Telkom Flexi dinyatakan telah BERAKHIR..

Kartu As CDMA milik penulis masih aktif hingga periode Juli 2016 ini, hanya saja untuk mencari info terkait skema tarif khusus As CDMA, maupun info dari situs resmi yang menjelaskan segala ketentuan pemakaian dan hal-hal terkait rasanya masih belum ada, sehingga secara tidak langsung kartu ini secara umum “rasanya” sama persis dengan kartu As Telkomsel, baik itu dari segi layanan maupun tarifnya.

RIP Telkom Flexi…

==================================================

flexi as cdma - depan

 

Akhir tahun 2014 ini sepertinya akan menjadi momen migrasi besar-besaran bagi pengguna CDMA Flexi. Telkom begitu gencar melakukan sosialisasi, promosi dan upaya pendekatan kepada masyarakat yang masih menggunakan layanannya agar segera berpindah ke “provider anak” alias ke Telkomsel yang menggunakan layanan seluler berbasis GSM.

Continue reading

Halaman yang terlipat

Sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan dari hasil bersih-bersih gudang. Tumpukan kardus, sampah dan material lainnya menggunung mengotori garasi rumah. Walaupun sebenarnya sudah terbiasa dengan yang seperti itu (mirip kondisi kamarku), tetap saja aku tidak suka melihat kekacauan di garasi itu.Yang menarik perhatian, ternyata ada cukup banyak buku-buku yang juga berserakan disana.

Didokumentasikan sebelum disingkirkan

Penasaran dengan buku-buku yang berserakan, saya putuskan untuk “mengacak-acak” sekalian. Wow, ternyata menyenangkan juga. Sejenak kemudian aku terdiam sesaat melihat beberapa buku dan catatan yang rasanya tidak asing lagi. Ini kan… ya, ini adalah buku-buku milikku yang sempat aku simpan dulu. Mulai dari buku pelajaran, catatan harian, artikel, dan masih banyak lagi. Barang-barang ini (kebanyakan buku) sudah aku simpan sejak SD, ada juga beberapa yang merupakan koleksi saat SMP dan peninggalan masa muda di SMA. Beberapa barang ini memang sudah tidak dipakai lagi, tapi entah kenapa sayang rasanya kalau harus dibuang begitu saja. Ada juga beberapa buku dan catatan yang sebenarnya juga merupakan “harta karun” bagi saya, yang tapi karena kesibukan kemudian terlantar dan akhirnya mereka harus berakhir di gudang.

Sambil membersihkan dan memilah-milah buku yang ada, bayangan nostalgia menghampiri pikiranku bersamaan dengan saat kutemukan buku-buku lawas itu. Beberapa buku itu seakan menceritakan kembali masa-masa saat aku masih menggunakannya, walaupun yang aku lakukan hanya sebatas memandangi covernya saja sambil sesekali menyeka debu dan kotoran yang menempel padanya. Momen perjalanan hidup bertahun-tahun yang sudah aku lupakan seketika itu muncul kembali bersamaan dengan munculnya judul-judul buku yang kutemukan dari sana. Hm.. benar-benar masa lalu. Tapi aku masih ingat betul, bagaimana setiap buku-buku itu menemaniku melewati dan menghabiskan masa muda bersama dengan cerita-ceritanya.

masih gak ikhlas kalau harus dibuang, akhirnya dikumpulkan lagi

Terakhir, jika orang tak dikenal saja boleh berkata “Buku adalah jendela menuju dunia” maka saya pun ingin berkata “Menyimpan buku adalah jendela menuju masa lalu bagi saya”. Kenapa yang dituju adalah masa lalu? Karena masa lalu adalah referensi dan acuan bagi saya untuk menatap masa yang akan saya lalui setelahnya..

Dengannya aku mengenangmu

Karenanya aku menjadi orang berilmu

Terima kasih.. Buku

Tes gambar

Niatnya sih menulis tentang ” legal issue ” terkait penggunaan gambar di internet, masalah serius yang sering disepelekan masyarakat kebanyakan. Juga studi kasus tentang beberapa masalah yang pernah muncul karena hal diatas. Tapi saya males..

Jadi sementara cuma upload gambar, biar blognya gak tulisan terus isinya.

Apa pendapat anda tentang gambar diatas ?

Gambar diatas adalah gambar bunga apel, yang sempat saya ambil waktu keluyuran di Kota Apel. Lalu coba anda perhatikan di pojok kiri bawah gambar, terdapat semacam tulisan kecil yang “mengganggu” bukan? apalagi jika anda hendak mengambil gambar ini sebagai wallpaper, foto profil di akun sosial dan yang semisal. Belum lagi jika tulisan-tulisan tidak penting itu letaknya di tengah gambar atau ukurannya besar, pasti akan lebih menjengkelkan karena akan jelek jika digunakan. etapi…

Sebenarnya isu itulah yang ingin saya bahas karena cukup sering menyebabkan masalah, akan tetapi banyak juga masyarakat kita yang tidak menyadarinya dan bahkan meremehkan isu-isu remeh seperti ini.

N.B. : Saya mengklaim gambar diatas milik saya, akan tetapi saya tidak akan membatasi penggunaan gambar tersebut. Jadi silahkan anda meng-copy, men-download, meng-ambil, meng-crop, meng-edit dll. gambar diatas selama penggunaan gambar itu nantinya hanya untuk keperluan pribadi anda. Dan bukan untuk keperluan komersial. (Ini contoh dari legal issue yang saya maksud. Dalam kasus ini saya menyebutnya copyleft,kebalikan dari copyright, karenanya anda bebas untuk memakainya.)

Win7-ku gak bisa di Shutdown/Restart

APES. mungkin itu “award” yang akan saya berikan pada orang-orang yang pernah mengalami hal ini. Termasuk penulis yang notabene juga bukan merupakan makhluk dengan tingkat keberuntungan yang cukup baik. Karenanya bersyukurlah kalian yang masih memiliki keberuntungan lebih dibandingkan saya, juga karena masih bisa membaca entri kali ini tentang “keberuntungan versi saya”.

Cerita kali ini berawal ketika saya mulai memperhatikan perilaku aneh di notebook saya. Saat saya “membangunkannya” dari tidur, baik itu sleep atau hibernate, satu hal menarik yang saya dapati adalah tidak adanya login screen (atau apalah kamu menyebutnya) dan langsung masuk ke desktop. Hal yang tidak wajar mengingat saya termasuk orang yang menggunakan password untuk melakukan login ke user account. Kecurigaan pertama muncul pada tangan-tangan jahil yang dengan kecerdasannya (dan ke-apes-an saya karena menaruh hint untuk password sebagai tindak preventif jika saya juga lupa) berhasil menonaktifkan password lalu mengutak-atik konfigurasi atau lebih iseng lagi mereka ingin melihat-lihat koleksi pribadi saya.. *ups

Tapi kecurigaan itu tidak terbukti, setting user account saya masih sama seperti sebelumnya. Mulailah saya masuk ke fase desperate tingkat satu. Double antivirus saya kerahkan menuju TKP untuk melakukan full (deep) scan. Online antivirus scan pun saya datangkan dengan harapan adanya diagnosa lebih lanjut tentang gejala satu ini. Dan hasilnya ternyata cukup mengejutkan..  NIHIL, no viruses.

Hal ini menyebabkan saya kemudian sering mematikan komputer dengan cara kasar. Kasus ini mengingatkan saya pada kejadian yang juga pernah dialami oleh teman seperguruan (tinggi) saya. Notebooknya mengalami hal serupa. Solusi versi dia, adalah dengan menggunakan dual boot. Okay, saya coba install WinXP di laptop dan hasilnya adalah… BlueScreen.  *Ugh, sial..*

Sepertinya laptop saya memang sudah tidak kompatibel lagi dengan software-software 32bit, baik itu aplikasi lawas maupun operating system. Maka beralihlah saya ke solusi selanjutnya versi dia. Gunakan Linux. Inilah solusi yang sebenarnya dia terapkan selama beberapa waktu lalu (jadi cerita BlueScreen dimaksud yang sebelumnya lebih diakibatkan karena “keberuntungan” saya, akibat tidak bertanya lebih detail tentang solusi yang dimaksud). Setelah berhasil melakukan dual boot di laptop, dia harus selalu berpindah dari Windows ke Linux hanya untuk mematikan laptopnya. Sebuah solusi yang efektif, tapi tidak efisien. Benar-benar membuat saya tidak bersemangat. Karena melakukan dual boot Windows-Linux tidak akan saya sarankan jika anda masih awam mengenai hal ini. Salah sedikit saja dalam melakukan partisi harddisk dapat menyebabkan anda menangis selama proses instalasi, tidak peduli apakah anda laki-laki atau perempuan. *lebay dikit*

Masuk ke fase desperate tingkat dua. Online, search Go***e. Saya “beruntung”, karena solusi pun berdatangan, yang dimana masing-masing dari solusi itu ternyata juga datang bersamaan dengan masalah lain dan baru. Walaupun ujung-ujungnya berakhir dengan kondisi komputer yang tidak bisa di logoff, restart atau shutdown. Dikatakan disana, bahwa sebelum memulai penanganan ada beberapa gejala yang harus didiagnosa terlebih dahulu. Lebih beruntung lagi saya karena kebanyakan diagnosa yang diberikan ternyata meleset, atau memang saya belum menjumpai gejala seperti yang telah disebutkan. Maka saya ambil sebuah solusi yang menurut saya paling bagus. Instalasi ulang sistem operasi.. (-__-“)

Solusi terakhir yang paling banyak diapresiasi, baik oleh forum-forum di internet maupun oleh teman saya yang akhirnya menyerah dengan solusi dual-boot miliknya. Semoga saja itu juga berlaku untuk saya, karena sampai sekarang ini pun saya masih belum menerapkannya. Saya masih ingin mencoba sejauh mana “keberuntungan” ini bakal menemani. Ada satu solusi yang sedang saya terapkan saat ini. Bermain registry. Saat ini saya sedang mencoba sebuah tools bernama CCleaner. Mungkin anda sudah pernah dengar atau mencoba, dan bagi anda yang penasaran silahkan coba link yang saya berikan tadi. Tools ini saya gunakan untuk “membersihkan” semua registry yang ada. Dan tidak berhasil. hahaha.. aku tertawa dalam keputusasaan..

Memasuki fase desperate tingkat tiga, saya coba membuka aplikasi terminal, command prompt. Karena selain sudah tidak bisa melakukan shutdown, restart dan log-off ternyata task manager (Ctrl+Alt+Del) pun juga sudah tidak bisa dijalankan. Beraksi bak hacker patah hati, command-command extreme pun saya masukkan hingga akhirnya muncul sebuah keyword penyelamat. Shutdown. Ternyata kerusakan registry belum sampai kesini. Maka komputer pun akhirnya berhasil saya restart dan shutdown dengan bantuan command satu ini, Alhamdulillah.

Walaupun masih belum menunjukkan gejala benar-benar sembuh, paling tidak belum ada tanda-tanda kalau operasional saya akan terganggu karena masalah registry ini. Yah minimal saya tidak harus melakukan instalasi ulang dalam waktu dekat ini..